Ilustrasi plastik
FAJAR.CO.ID, JAKARTA - Ketegangan geopolitik yang masih terjadi di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Israel mulai menunjukkan dampak nyata terhadap sektor ekonomi global.
Salah satu yang paling terasa adalah lonjakan harga plastik. Lonjakan harga yang terjadi ini mulai terasa membebani industri hingga konsumen di berbagai negara. Termasuk konsumen di Indonesia.
Viral di media sosial netizen membagikan pengalamannya membeli plastik dengan harga yang disebut melambung tinggi dari sebelum adanya perang.
Dalam narasi yang beredar penjual dan pembeli mengeluhkan harga. “11 Maret 2026, aku mau ngasih tahu harga plastik yang naiknya melambung tinggi,” kata seorang penjual dikutip @jakut.info Selasa (24/3/2026).
Ada juga penjual lain yang menyebut kenaikan harga plastik berada pada kisaran 30 hingga 40 persen yang semakin mencekik UMKM.
“Harga plastik naik terus, UMKM makin kecekek. Rata-rata kenaikan 30-40% berlaku untuk semua jenis plastik PE, PP, HD,” jelasnya.
Mengapa Plastik Bisa Naik?
Kenaikan harga ini tidak terjadi tanpa sebab. Plastik adalah produk turunan dari minyak bumi. Untuk itu setiap gejolak di kawasan penghasil energi dunia akan berdampak langsung terhadap biaya produksinya.
Konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang notabene sebagai kawasan strategis penghasil minyak global menyebabkan tekanan kenaikan. Fenomena ini langsung merambat ke industri petrokimia.
Rantai Dampak: Minyak ke Plastik
Wilayah Timur Tengah, khususnya jalur distribusi energi seperti Selat Hormuz, memegang peran vital dalam suplai minyak dunia.

















































