Ekonom Waspdai Risiko Kesepakatan Dagang RI-AS, Ketergantungan Impor hingga Persaingan Produk Lokal

8 hours ago 14

FAJAR.CO.ID,JAKARTA — Kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Indonesia (RI) menuai pro kontra. Dianggap ada keuntungan bagi RI, tapi memiliki risiko.

Itu diungkapka Dosen Fakultas Ekobomi dan Bisnis Universitas Hasanuddi (Unhas) Prof Anas Iswanto Anwar. Dia mewanti-wanti kesepakatan tersebut.

“Kesepakatan ini juga memiliki risiko,” kata Guru Besar dalam bidang ekonomi moneter internasional itu kepada fajar.co.id, Jumat (20/2/2026).

Berbagai risiko dimaksud, seperti ketergantungan impor. Baik energi maupun pangan.

Selain itu, dia mewaspadai adanya persaingan antara produk lokal dengan barang impor.

“Seperti ketergantungan pada impor energi dan pangan dari AS. Serta potensi persaingan dengan produk lokal,” terangnya.

Di sisi lain, dia mengakui memang kesepakatan tersebut memberikan beberapa keuntungan. Seperti menurunnya tarif resiprokal.

“AS menurunkan tarif resiprokal atas produk Indonesia dari 32% menjadi 19%, yang membuka akses pasar bagi produk unggulan Indonesia seperti minyak sawit, kopi, dan kakao,” jelasnya.

Menurut Anwar, itu positif bagi Indonesia. Karena produk bisa masuk ke AS dengan jumlah besar.

“Indonesia juga membebaskan tarif bea masuk bagi sebagian besar produk asal AS, termasuk energi, pertanian, mesin,” ucapnya.

Keuntungan lain bagi Indonesia, menurutnya dari segi peningkatan Ekspor. Penurunan tarif dapat meningkatkan ekspor Indonesia.

“Tarif 19% yang lebih rendah dibandingkan dengan negara lain di kawasan ASEAN, seperti Vietnam dan Malaysia dapat meningkatkan daya saing. Penciptaan Lapangan Kerja dan meningkatkan investasi di Indonesia,” pungkasnya.

Agreement of Reciprocal Trade

Kesepakatan dagang AS-RI itu disebut sebagai Agreement of Reciprocal Trade. Penandatanganan dilakukan langsung oleh kedua kepala negara dalam rangkaian pertemuan bilateral yang berlangsung sekitar 30 menit usai kegiatan Board of Peace, pada Kamis (19/2) waktu setempat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa dokumen perjanjian beserta lampirannya juga ditindaklanjuti dalam pertemuan di kantor Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat atau United States Trade Representative (USTR) bersama Ambassador Jameson Greer.

“Hari ini, tadi pagi, Bapak Presiden langsung menandatangani kerja sama Agreement of Reciprocal Trade yang diberi judul Toward a New Golden Age for the U.S–Indonesia Alliance dan ditandatangani secara bersama baik oleh Bapak Presiden Prabowo maupun Presiden Donald Trump,” ujar Airlangga dalam konferensi pers secara daring, Jumat (20/2).

Ia menjelaskan, Indonesia dan Amerika Serikat sepakat memperkuat kerja sama ekonomi dan mendorong pertumbuhan di kedua negara. Salah satu poin penting dalam perjanjian tersebut adalah pembentukan Council of Trade and Investment sebagai forum ekonomi bilateral.

Menurut Airlangga, dewan tersebut akan menjadi mekanisme resmi untuk membahas berbagai isu perdagangan dan investasi, termasuk apabila terjadi kenaikan tarif atau kebijakan yang dinilai berpotensi mengganggu keseimbangan ekonomi kedua negara.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Rakyat news| | | |