Roy Murtadho Ngamuk! Bantuan Diaspora Aceh Masih Tertahan, Pemerintah Disebut “Biadab”

7 hours ago 15
Warga Takengon berdiri di antara kayu-kayu yang terbawa banjir dan longsor. (Jurnalisa untuk JawaPos.com)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Kritik keras kembali diarahkan ke pemerintah. Kali ini datang dari Presidium Nasional Partai Hijau Indonesia, Roy Murtadho, yang menyinggung lambannya penanganan bantuan untuk korban banjir di Sumatra.

Bantuan Diaspora Aceh di Malaysia Masih Tertahan

Roy mengaku geram setelah mendapat informasi bahwa bantuan dari diaspora Aceh di Malaysia belum diizinkan masuk oleh Bea Cukai, meski banjir telah terjadi sekitar dua bulan.

Ia mempertanyakan sikap pemerintah yang dia anggap tidak peka terhadap kondisi para korban.

“Inikah yg disebut sebagai adab oleh orang-orang istana presiden?," ujar Roy dikutip fajar.co.id melalui cuitannya di X (19/2/2026).

Alokasi Dana Besar hanya untuk Program Lain

Bukan hanya soal bantuan banjir, Roy juga menyinggung kebijakan anggaran negara.

Ia menyebut adanya alokasi dana dalam jumlah besar untuk program lain, sementara korban bencana dinilai belum tertangani optimal.

“Uang Rp16 triliunan dibuat saweran BoP, korban banjir kurang penanganan,” sebutnya.

Dana Pendidikan Dipangkas untuk MBG

Roy turut menyoroti pemangkasan anggaran pendidikan yang dikaitkan dengan program unggulan Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia mengkritik pernyataan yang menyebut angka kasus keracunan dalam program tersebut sangat kecil secara persentase.

“Anggaran pendidikan dipangkas untuk MBG, keracunan MBG hanya dianggap statistik dengan bilang, cumak 0,0006 persen saja!," cetusnya.

“Hanya satu kata, biadab!," kuncinya.

Bantuan Masih Mening Izin dari Bea Cukai

Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, mengungkap adanya bantuan dari diaspora Aceh di Malaysia yang hingga kini belum dapat dikirim ke tanah air karena masih menunggu perizinan dari Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan.

Bantuan tersebut rencananya diperuntukkan bagi korban bencana di Aceh. Tito menjelaskan, pihaknya telah bertemu langsung dengan Ketua Persatuan Melayu Berketurunan Aceh Malaysia (Permebam), Datuk Mansyur Usman, untuk membahas rencana pengiriman logistik dengan nilai mencapai miliaran rupiah itu.

Dalam Rapat Koordinasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera bersama DPR RI, Rabu (18/2/2026), Tito memaparkan rincian barang yang akan dikirim.

"Jadi rinciannya ada minyak goreng 3.000 liter senilai Rp 1 miliar, gula pasir sekitar Rp 50 juta, air mineral Rp 672 juta, makanan siap saji ada 5.000 dus Rp 1 miliar," ujar Tito kepada awak media.

"Yang banyak adalah pakaian baru 3.000 karung Rp 126 miliar. Al Quran senilai Rp 1 miliar, kloset toilet Rp 4,8 miliar," tambahnya.

Ia berharap bantuan tersebut dapat segera diberangkatkan dari Port Klang menuju Pelabuhan Krueng Geukueh di Lhokseumawe.

Untuk mempercepat prosesnya, Tito mengaku sudah melayangkan surat kepada Dirjen Bea Cukai Kementerian Keuangan.

"Intinya adalah untuk minyak goreng dan gula pasir kita perlu ada surat dari kementerian teknis yaitu Kementerian Pertanian. Karena minyak goreng dan gula pasir apakah boleh dimasukan," kata Tito.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Rakyat news| | | |