Pro Kontra Tahlilan di Rumah Jokowi: Guntur Romli Kritik Politisasi, Warga Membela

13 hours ago 13
Tangkapan layar yang viral

FAJAR.CO.ID — Video kegiatan tahlilan di depan rumah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) viral di media sosial dan memicu polemik. Sejumlah pihak menilai kegiatan tersebut sebagai bentuk politisasi tradisi keagamaan, sementara pihak lain menyebutnya sebagai ekspresi doa yang wajar dan bagian dari budaya masyarakat.

Politikus Mohamad Guntur Romli yang juga kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) menilai tahlilan merupakan tradisi sakral yang tidak seharusnya ditarik ke dalam kepentingan politik praktis.

“Tahlilan adalah komposisi doa, zikir, tasbih, dan tahlil yang tujuannya meng-Esa-kan Allah. Jika digunakan untuk kepentingan politik atau pemujaan terhadap sosok tertentu, itu mencederai makna spiritualnya,” ujar Guntur dalam keterangannya.

Ia menambahkan, tradisi tahlilan selama ini menjadi bagian penting dari khazanah Islam Nusantara dan dijalankan dengan niat ibadah, bukan sebagai alat mobilisasi politik.

Warga: Doa adalah Hak dan Tradisi

Di sisi lain, sejumlah warga yang mengikuti kegiatan tersebut membantah tudingan politisasi. Mereka menyebut kegiatan itu sebagai doa bersama yang dilakukan secara sukarela.

“Saya datang karena ingin mendoakan dan bersilaturahmi. Tidak ada ajakan kampanye atau kepentingan politik,” kata salah satu peserta yang enggan disebut namanya.

Menurutnya, tahlilan adalah tradisi sosial-keagamaan yang biasa dilakukan di berbagai tempat, termasuk di kediaman tokoh masyarakat. “Selama isinya doa dan tidak ada seruan politik, rasanya sah-sah saja,” tambahnya.

Konteks dan Persepsi Publik Berperan

Publik menilai polemik ini muncul karena konteks lokasi dan figur yang terlibat. Rumah seorang tokoh nasional seperti Jokowi dinilai memiliki makna simbolik yang kuat, sehingga aktivitas apa pun di sekitarnya mudah ditafsirkan sebagai pesan politik.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Rakyat news| | | |