Psikolog: Bunuh Diri pada Anak Tidak Impulsif, Kasus Siswa SD di NTT Cerminkan Akumulasi Tekanan Batin

2 hours ago 8
Ilustrasi. (int)

FAJAR.CO.ID — Tragedi meninggalnya seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menyoroti persoalan serius terkait kesehatan mental anak. Para ahli menegaskan bahwa fenomena bunuh diri pada anak bukan sekadar tindakan impulsif, melainkan umumnya merupakan puncak dari tekanan batin yang terakumulasi dalam waktu lama.

Dalam perspektif psikologi, kondisi ini kerap dikaitkan dengan hopelessness atau rasa putus asa yang ekstrem. Anak merasa tidak memiliki jalan keluar dari masalah yang dihadapinya, meskipun persoalan tersebut tampak sederhana bagi orang dewasa.

“Pada banyak kasus, anak bisa merasa dirinya adalah beban bagi orang tua. Perasaan ini sangat berbahaya, apalagi ketika dipendam tanpa ruang aman untuk bercerita,” ujar pemerhati kesehatan mental anak, Dastin Andre, Selasa, (3/2/2026).

Keterbatasan Cara Berpikir Anak

Ahli menjelaskan, pada usia sekolah dasar, kemampuan kognitif anak belum berkembang sepenuhnya untuk memproses masalah secara jangka panjang. Anak belum mampu memahami bahwa kesulitan bersifat sementara dan dapat dicari solusinya secara bertahap.

Dalam kondisi tertekan, anak dapat sampai pada kesimpulan keliru bahwa cara menghilangkan masalah adalah dengan menghilangkan dirinya sendiri, karena ia memandang dirinya sebagai sumber persoalan.

Hal inilah yang dinilai relevan dengan kasus siswa SD di NTT, yang berdasarkan informasi aparat, meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi. Surat itu menunjukkan adanya pergulatan batin dan beban emosional yang dipikul korban.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Rakyat news| | | |