Tragedi Bunuh Diri Remaja di Demak: Psikolog Ungkap Peran Kritis Orang Tua dan Komunikasi Keluarga

12 hours ago 11
Polisi melakukan visum pada jasad korban. (IST)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR -- Sebuah tragedi mengguncang Desa Batursari, Demak, saat seorang remaja berusia 13 tahun, SA, ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri pada sore hari saat rumah dalam kondisi sepi. Peristiwa memilukan ini menjadi sorotan publik dan memicu diskusi mendalam mengenai beban psikologis yang dihadapi anak-anak dan remaja saat ini.

Jenazah SA pertama kali ditemukan oleh ibunya sendiri sekitar pukul 18.03 WIB setelah ibu korban pulang bersama adik SA dan masuk ke rumah pada pukul 18.01 WIB sambil menggendong adiknya. Hanya dalam waktu dua menit, suasana berubah mencekam ketika sang ibu keluar rumah dengan panik dan berteriak memanggil tetangga untuk meminta pertolongan.

Indikasi Beban Psikologis Berat pada Remaja

Psikolog Universitas Negeri Makassar (UNM), Muhammad Rhesa, menilai kasus ini menunjukkan adanya beban psikologis yang sangat berat pada korban. Ia menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase perkembangan yang krusial di mana individu menghadapi dilema antara pembentukan identitas dan kebingungan peran.

"Pada fase remaja seperti ini, seseorang masuk pada tahap perkembangan dilematis antara identitas dan kebingungan peran," jelas Rhesa kepada fajar.co.id pada Minggu (15/2/2026).

Lebih lanjut, Rhesa menegaskan bahwa peran orang tua sangat menentukan keberhasilan remaja melewati fase tersebut dengan sehat.

"Salah satu yang bisa menjembatani agar fase perkembangan ini dilewati dengan baik yaitu orang tua," katanya.

Relasi Keluarga dan Media Sosial sebagai Cerminan Emosi

Rhesa menekankan bahwa relasi antara remaja dan orang tua sangat memengaruhi pembentukan identitas dan harga diri anak. Dalam kasus SA, ia melihat kurangnya dukungan relasi tersebut.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Rakyat news| | | |