Knetz vs SEAblings, Ekonomi Korea Selatan Terpuruk?

18 hours ago 14

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Berawal dari sebuah komentar salah sasaran berujung ucapan rasis, Korea Selatan harus mengalami guncangan hebat di sektor ekonomi.

Korsel yang selama lebih dari satu dekade menjadi pusat budaya, ekonomi bahkan musik pop dunia harus berurusan dengan beberapa negara di ASEAN termasuk Indonesia.

Masyarakat ASEAN berbondong-bondong menyerukan boikot terhadap negeri ginseng setelah dikatai mirip monyet atau kera.

Awal Mula Konflik

Awal mula ketegangan antara Korsel dan negara ASEAN berlangsung dalam sebuah konser K-Pop diadakan oleh grup band Day6 di Axiata Arena, Malaysia pada 31 Januari 2026 lalu.

Konser yang telah ditungu-tunggu oleh MYDAY sebutan fans Day6 mulanya berlangsung meriah. Ribuan oasang mata memadati lokasi konser dengan penuh antusias.

Sayangnya, dibalik sorak sorai penonton yang berbaur dengan gemerlap cahaya lampu konser, insiden kecil yang tak pernah disangka akan menjadi krisis moral internasional bagi Korsel terjadi.

Seorang fansite master yang berasal dari Korea Selatan melanggar aturan konser saat membawa peralatan profesional seperti kamera berukuran besar dengan lensa panjang.

Aksi fansite atau disebut juga masternim ini kemudian diabadikan oleh salah-satu warga negeri Jiran yang kemudian menyebar luas di media sosial.

Permintaan Maaf Justru Berujung Rasisme

Akibatnya kritik dari netizen Asia Tenggara terus menghujani pemilik fansite. Menyadari kesalahannya, masternim tersebut telah menyampaikan permintaan maaf.

Tetapi, permintaan maaf sang masternim ternyata tidak membuat reda ketegangan. Warganet Korea Selatan atau dikenal dengan Knetz memberikan dukungan kepada fansite tersebut.

Namun, dukungan yang diberikan justru tidak bijak dengan cara menyerang balik komunitas penggemar yang ada di Asia Tenggara.

Komentar-komentar yang semua membela justru lambat laun bernada merendahkan, menyerang stereotip ekonomi hingga bernada rasisme yang menyangkut ras dan agama.

Indonesia Kena Imbas

Indonesia yang sebelumnya tidak disebut secara gamblang justru turut menerima imbas. Salah satu girl band Nona ikut terseret.

Salah satu Knetz meledek musik video milik grup yang dibawahi oleh agesi 88rising itu dengan narasi kasar yang menyebut grup tersebut tak mampu menyewa tempat yang layak untuk MV mereka.

Mereka menyebut Nona miskin karena mengambil latar persawahan sebagai MV. Serangan ini tentunya tak masuk akal dan sudah keluar konteks dari permasalahan konser sebelumnya.

Komentar semakin parah saat Knetz menyebut wanita-wanita Indonesia dan Asia Tenggara mirip sekumpulan monyet.

Awal Mula Istilah SEAblings

Merasa relevan lantaran dihina oleh negara Korea Selatan, para netizen mulai bersatu dan membentuk nama SEAblings yang merupakan gabungan kata Southeast Asia dan siblings. Ini kemudian menjadi identitas baru netizen Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.

Bukan sekedar membela Indonesia, tetapi mereka mempertahankan martabat di kawasan Asia Tenggara.

Muncul Tagar Boikot

Dari sinilah, masalah mulai semakin besar saat SEAbling menyerukan aksi boikot lewat tagar-tagar di media sosial yang menyerang sektor wisata Korsel.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Rakyat news| | | |