Pengamat hukum tata negara, Bivitri Susanti
FAJAR.CO.ID,JAKARTA — Pakar Hukum Tata Negara, Bivitri Susanti buka suara. Terkait turunnya indeks korupsi, atau skor CPI Indonesia di tahun 2025.
“Indeks Persepsi Korupsi turun. Nggak kaget sih,” tulis Bivitri dikutip dari unggahan media sosial X pribadinya, Selasa (10/2/2026).
Dia mengatakan, tak kaget jika indeks tersebut turun. Kecuali bagi orang yang terkecoh dengan cara penanganan korupsi pemerintah.
Bivitri menyentil cara Aparat Penegak Hukum (APH) dalam menanganani korupsi. Terutama dalam memajang uang hasil dugaan korupsi.
“Kecuali kalau Anda terkecoh dengan “pameran uang” waktu memajang tersangka korupsi belakangan ini,” ujar Bivitri.
Menurutnya, selama pemerintahan Prabowo-Gibran berjalan, semua peringkat turun. Yang naik, kata dia, hanya kepercayaan diri pemerintah.
“Semua peringkat memang turun, yang naik cuma kepercayaan diri pemerintah. Udah gitu aja,” ucapnya.
Penyebab Skor CPI Indonesia Turun
Adapun indeks korupsi dimaksud, yakni Corruption Perceptions Index (CPI). Dirilis Transparency International (TI) untuk tahun 2025.
Indonesia mendapatkan skor 34 dari 100. Secara posisi, Indonesia ditempatkan pada urutan ke-109 dari total 182 negara. Jika dibandingkan dengan skor maupun posisi terdahulu, skor Indonesia merosot dari skor 37 dan turun peringkat dari urutan 99 di tahun 2024.
Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai bahwa kontributor terbesar anjloknya skor CPI Indonesia di tahun 2025 adalah Presiden Prabowo Subianto. Setahun belakang, ICW menilai pemerintahan Prabowo-Gibran menggunakan kekuasaannya untuk membangun ekosistem yang menormalisasi konflik kepentingan, nepotisme, hingga patronase.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

















































