Kemensos melalui Sentra Efata Kupang memberikan santunan dan bantuan dengan total Rp 9 juta bagi keluarga siswa SD yang meninggal diduga bunuh diri di NTT. (Foto: Kemensos RI)
FAJAR.CO.ID, NGADA -- Viralnya kisah pilu anak laki-laki berusia 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal dunia dalam kondisi yang menyayat hati. Yohanes Bastian Roja, siswa SD itu, diduga mengakhiri hidupnya sendiri.
Tragedi ini mengungkap sebuah fakta pahit: selama 11 tahun, keluarganya yang tergolong miskin ekstrem ternyata sama sekali tak mendapat bantuan sosial dari pemerintah. Akar masalahnya ada pada data kependudukan yang tak kunjung tuntas.
Keluarga Yohanes adalah penduduk pindahan. Nah, perpindahan domisili inilah yang membuat mereka terperangkap dalam masalah administrasi. Akibatnya, nama mereka tak masuk ke dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), yang menjadi pintu utama untuk menerima berbagai bantuan. Padahal, himpitan ekonomi mereka nyata adanya.
Surat Perpisahan dan Mimpi yang Tak Kesampaian
Desakan ekonomi yang keras itulah yang diduga menjadi alasan Yohanes memutuskan "pergi". Ia meninggalkan sebuah surat yang isinya membuat siapa pun yang membacanya terenyuh.
Dalam surat itu, bocah itu hanya meminta hal-hal sederhana: buku dan pena untuk belajar. Sayangnya, permintaan polos itu tak bisa dipenuhi. Keluarganya benar-benar tak punya uang untuk membelikannya.
Kepala Dinas Dukcapil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo, mengonfirmasi langkah cepat yang diambil pihaknya usai tragedi ini. "Saat itu juga kami langsung mendata dan memproses pindah penduduk," jelasnya pada Kamis (5/2/2026).
Gerardus menambahkan, "Besok, seluruh dokumen kependudukan sudah selesai."
Jemput Bola yang Terlambat
Ungkapan Gerardus Reo tersebut sekaligus menunjukkan tindakan "jemput bola" yang dilakukan Dukcapil. Mereka akhirnya turun tangan memproses perpindahan domisili keluarga tersebut agar segera tercatat dalam DTKS.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

















































