Dr. Andi Caezar To Tadampali SaE MM, Dosen FEB UNM
Oleh : Dr. Andi Caezar To Tadampali SaE MM, Dosen FEB UNM
Pemandangan kota makassar yang dulunya riuh oleh pedagang kaki lima yang berjualan di bahu jalan dan trotoar hampir disetiap jalan mulai ditata oleh pemerintah. Langkah tegas walikota makassar bpk munafri arifuddin patut kita apresiasi bersama, hal ini didasari oleh masalah yang ditimbulkan mulai dari penyebab kemacetan jalan, hak pejalan kaki yang terganggu, sampai kepada ketertiban dan keindahan kota.
Selama ini penertiban PKL seringkali berujung resistensi dan konflik sosial antara pemerintah dan PKL. Namun melalui kacamata ekonomi kreatif kebijakan itu kini harusnya bergeser dari sekedar penataan menjadi inkubasi yang berujung pada aksi .
Dalam ekonomi kreatif, kita mengenal konsep placemaking yaitu pendekatan perencanaan dan pengembangan ruang publik yang berpusat pada manusia yang bertujuan menciptakan tempat yang nyaman dan bermakna.
Konsep ini memberikan ruang terhadap PKL yang ditata dengan baik dapat menciptakan creative hub melalui transformasi ruang publik seperti taman, alun alun kota dan ruang terbuka hijau yang ada di kota makassar.
Integrasi ekosistem kreatif sebagai strategi penataan kota yang menggeser paradigma dari penggusuran PKL menjadi pemberdayaan ekonomi kreatif dapat menjadi multiplayer effect jika mereka yang telah ditertibkan akan diberikan inkubasi usaha sebelum direlokasi ke tempat yang strategis sehingga PKL tidak lagi dianggap gangguan estetika, melainkan bagian dari daya tarik wisata dan ekonomi lokal. (*)
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

















































