JAKARTA, Indonesiasatu.co.id– PT Vale Indonesia Tbk mencatatkan kinerja gemilang pada triwulan pertama tahun 2026. Di tengah tantangan industri pertambangan global serta penurunan volume produksi akibat kegiatan pemeliharaan fasilitas utama, perusahaan tetap mampu membukukan lonjakan laba bersih sebesar 85 persen dan menjaga momentum ekspansi melalui berbagai proyek strategis yang tengah berjalan.
Berdasarkan laporan kinerja yang dirilis pada 29 April 2026, PT Vale mencatat laba bersih sebesar US$43, 6 juta pada kuartal I 2026. Angka tersebut meningkat tajam dibanding triwulan IV 2025 yang sebesar US$23, 6 juta. Selain itu, EBITDA perusahaan juga naik 29 persen menjadi US$80, 1 juta dari sebelumnya US$61, 9 juta. Sementara pendapatan perseroan sepanjang Januari hingga Maret 2026 mencapai US$252, 7 juta.
Capaian positif tersebut menunjukkan ketahanan bisnis PT Vale di tengah kondisi pasar yang dinamis. Perseroan menyebut pertumbuhan kinerja didorong oleh harga jual nikel yang lebih tinggi, efisiensi operasional, serta pengendalian biaya yang dilakukan secara disiplin.
Salah satu faktor utama yang menopang kinerja keuangan PT Vale adalah menguatnya harga nikel global. Perusahaan mencatat harga realisasi rata-rata nikel matte sebesar US$14.213 per ton, naik sekitar 15 persen dibanding kuartal sebelumnya yang berada di level US$12.308 per ton. Kenaikan harga ini memberi dampak langsung terhadap pendapatan dan margin keuntungan perseroan.
Selain itu, tahun 2026 menjadi tahun penuh pertama bagi PT Vale dalam menjalankan penjualan nikel matte dengan tingkat pembayaran 82 persen. Skema tersebut dinilai memberikan dasar pendapatan yang lebih kuat dan visibilitas margin yang lebih baik.
Meski dari sisi keuangan menunjukkan pertumbuhan kuat, produksi nikel matte PT Vale pada triwulan pertama tercatat sebesar 13.620 metrik ton. Jumlah ini lebih rendah dibanding kuartal IV 2025 yang mencapai 17.052 ton maupun periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 17.027 ton.
Manajemen menjelaskan bahwa penurunan produksi itu telah sesuai rencana perusahaan. Salah satu penyebab utamanya adalah program pemeliharaan besar, termasuk pembangunan kembali Furnace 3 yang ditargetkan rampung pada semester pertama 2026. Selain itu, penyesuaian produksi juga berkaitan dengan proses persetujuan RKAB tahun berjalan.
Meski demikian, PT Vale menegaskan tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai target produksi tahunan sebesar 67.645 ton nikel matte. Perusahaan optimistis volume produksi akan kembali meningkat seiring selesainya pekerjaan pemeliharaan dan normalisasi operasi di semester berikutnya.
Tidak hanya fokus pada bisnis utama di Sorowako, PT Vale juga terus mendorong pengembangan wilayah operasi baru. Tahun 2026 menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya perusahaan mulai mengoperasikan tiga blok pertambangan secara bersamaan, yakni Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.

Langkah ini menandai fase baru ekspansi PT Vale di Indonesia. Dengan tiga blok tambang aktif, perusahaan memiliki peluang lebih besar untuk memperkuat pasokan bahan baku, memperluas sumber produksi, serta meningkatkan volume penjualan di masa mendatang.
Salah satu capaian strategis lainnya adalah dimulainya penjualan perdana bijih nikel limonit dari area Pomalaa. Hal ini menjadi langkah penting dalam diversifikasi bisnis perusahaan, karena sebelumnya PT Vale lebih dikenal sebagai produsen nikel matte. Kehadiran limonit sebagai komoditas baru diyakini membuka peluang tambahan pendapatan di tengah tingginya kebutuhan bahan baku baterai kendaraan listrik dan pengembangan industri hilirisasi nikel nasional.
Dalam laporan tersebut, PT Vale juga mencatat volume penjualan bijih nikel dari Blok Bahodopi sebesar 886.094 wet metric ton (wmt), sementara Blok Pomalaa sebesar 88.983 wmt. Ke depan, perusahaan berharap volume dari dua blok pengembangan ini terus meningkat seiring bertambahnya kapasitas operasi.
Untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang, PT Vale mengalokasikan belanja modal sebesar US$139 juta selama kuartal pertama 2026. Dana tersebut digunakan untuk mendukung operasional berjalan, proyek pertumbuhan strategis, serta pengembangan aset perusahaan.
Sementara itu, posisi kas dan setara kas per 31 Maret 2026 tercatat sebesar US$220, 1 juta. Meski turun dibanding akhir tahun 2025, posisi keuangan perusahaan dinilai masih kuat untuk menopang ekspansi dan kebutuhan investasi yang sedang berlangsung.
Pada 23 April 2026, PT Vale juga menandatangani fasilitas pinjaman terkait keberlanjutan atau Sustainability-Linked Loan (SLL) senilai US$750 juta. Menurut perseroan, fasilitas ini menjadi pinjaman terkait keberlanjutan pertama di industri pertambangan Asia Tenggara dan memperkuat posisi perusahaan dalam penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
CEO dan Presiden Direktur PT Vale, Bernardus Irmanto, mengatakan capaian triwulan pertama tahun ini mencerminkan kekuatan fundamental bisnis perusahaan di tengah berbagai tantangan eksternal.
“Terlepas dari tantangan yang terus berlanjut dan lingkungan operasional yang tidak pasti, kami terus menunjukkan kemampuan untuk mempertahankan margin positif dan disiplin keuangan. Kinerja triwulan pertama 2026 mencerminkan fondasi bisnis yang kuat, didukung kenaikan harga nikel, efisiensi operasional, serta pengelolaan biaya yang konsisten, ” ujarnya.
Ia menambahkan, langkah ekspansi yang sedang berjalan akan menjadi penopang pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

“Pada saat yang sama, kami memperluas portofolio komersial melalui dimulainya penjualan limonit dari blok Pomalaa, yang menjadi langkah penting dalam memperkuat diversifikasi pendapatan dan meningkatkan keberlanjutan bisnis kami ke depan, ” tambahnya.
Secara keseluruhan, capaian triwulan pertama 2026 menunjukkan PT Vale masih berada pada jalur pertumbuhan positif. Dengan dukungan harga nikel yang membaik, penguatan kinerja keuangan, ekspansi tiga blok tambang, serta berjalannya proyek-proyek strategis, perusahaan dinilai memiliki fondasi kuat untuk melanjutkan kinerja positif hingga akhir tahun.


















































