Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 tak lagi sekadar dikenal sebagai destinasi wisata baru di pesisir utara Banten. Dalam kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI, kawasan ini dinilai memiliki modal kuat sebagai ekosistem pariwisata urban yang mengintegrasikan perdagangan, UMKM, dan ekonomi kreatif dalam satu kawasan terpadu.
Kunjungan yang berlangsung pada masa persidangan III Tahun Sidang 2025–2026, Kamis (5/2/2026), itu dilakukan untuk menjalankan fungsi pengawasan DPR RI terhadap pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi rakyat.
Dari paparan pengelola hingga peninjauan langsung ke lapangan, Komisi VII menilai pengembangan PIK 2 telah menunjukkan arah yang positif.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, mengapresiasi ekosistem pariwisata di PIK 2 yang dinilai sudah berjalan dan mampu menarik minat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
“Kami ingin melihat langsung bagaimana ekosistem pariwisata di PIK 2. Dari paparan dan peninjauan lapangan, ekosistemnya sudah berjalan,” kata Evita, Kamis (5/2/2026).
Menurut Evita, PIK 2 berkembang bukan hanya sebagai kawasan wisata, tetapi juga kawasan urban terpadu yang menghubungkan berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari perdagangan, jasa, hingga sektor kreatif.
Namun, ia mengingatkan agar pengembangan tersebut semakin berpihak pada pelaku UMKM kecil di sekitar kawasan.
Ia menilai keterlibatan UMKM di sejumlah destinasi, seperti By The Sea dan Aloha, merupakan langkah awal yang baik. Meski demikian, ia menyoroti bahwa pelaku UMKM yang terlibat saat ini masih didominasi kelompok menengah ke atas.
“UMKM sudah ada, tetapi masih banyak yang kelas menengah. Ke depan perlu disiapkan sentra UMKM agar pelaku usaha kecil benar-benar bisa naik kelas,” ujarnya.
Sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), lanjut Evita, PIK 2 diharapkan memberikan manfaat yang lebih terasa bagi masyarakat sekitar.
“Kemudahan yang diberikan negara kepada PSN harus dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar,” tegasnya.
Dalam dialog tersebut, Evita juga mendorong agar produk UMKM lokal dapat terintegrasi ke dalam layanan hotel dan pariwisata di kawasan PIK 2. Menurutnya, kualitas kemasan produk UMKM yang ada sudah cukup baik untuk bersaing.
“Packaging produk UMKM di sini sudah baik. Ke depan, produk lokal bisa menjadi snack di kamar hotel atau bagian dari layanan pariwisata,” katanya.
Karena berada di Provinsi Banten, PIK 2 juga dinilai memiliki potensi besar sebagai etalase promosi pariwisata daerah. Evita bahkan mengusulkan adanya layanan free shuttle dan free tour dari Bandara Soekarno-Hatta bagi wisatawan transit.
“Bandara hanya sekitar 15 menit. Kalau wisatawan transit diajak berkunjung, mereka bisa kembali lagi bersama keluarga,” ujarnya.
Selain itu, Evita menyoroti tingginya minat wisatawan asal Malaysia yang datang khusus untuk berbelanja busana muslim dan kebaya di kawasan PIK 2. “Mereka datang rombongan, belanja sampai pakai koper besar. Ini peluang besar bagi UMKM lokal,” ungkapnya.
Dari sisi tata kelola kawasan, Komisi VII DPR RI mengapresiasi penerapan konsep wisata bersih di PIK 2 yang dinilai sejalan dengan program ASRI sesuai arahan Presiden RI Prabowo Subianto. “Kawasannya tertata, bersih, dan pengelolaan limbahnya baik. Air olahan bahkan dimanfaatkan kembali. Ini praktik yang patut dicontoh,” kata Evita.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

















































