Cuaca Ekstrem Ancam Pasokan Pangan Ramadan–Lebaran, DPR Ingatkan Pemerintah Perkuat Distribusi dan Perlindungan Petani

13 hours ago 10
Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Rajiv Singh

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, stabilitas pangan nasional kembali berada di bawah sorotan. Lonjakan permintaan bahan pokok yang rutin terjadi setiap tahun kini dibayangi tantangan berlapis, mulai dari ancaman cuaca ekstrem, potensi bencana hidrometeorologi, hingga kerentanan distribusi pangan.

Jika tidak diantisipasi secara matang, kondisi ini dinilai berisiko memicu gangguan pasokan dan lonjakan harga di tingkat konsumen.

Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Rajiv Singh, mengingatkan bahwa kesiapan pemerintah menjadi faktor penentu dalam menjaga stabilitas pangan nasional di tengah tekanan musiman tersebut.

Menurutnya, tantangan tahun ini jauh lebih kompleks karena faktor cuaca masih menunjukkan tren berisiko tinggi hingga beberapa bulan ke depan.

"Tanpa perencanaan distribusi dan mitigasi yang kuat, gejolak harga pangan sulit dihindari," kata Rajiv kepada wartawan di Jakarta, Jumat (6/2/2026).

Rajiv merujuk pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan curah hujan dengan intensitas tinggi diperkirakan masih akan berlangsung hingga April 2026. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu banjir, tanah longsor, serta kerusakan infrastruktur di berbagai daerah sentra produksi pangan maupun jalur distribusi utama.

Menurutnya, dampak cuaca ekstrem tidak hanya dirasakan di sektor hulu pertanian, tetapi juga sangat memengaruhi kelancaran logistik pangan. Ketika infrastruktur terganggu, biaya distribusi akan meningkat dan beban tersebut pada akhirnya dibebankan kepada konsumen.

“Ketika jalan rusak atau distribusi terhambat akibat bencana, biaya logistik naik. Ujungnya selalu sama: harga di tingkat konsumen melonjak,” katanya lagi.

Ia menilai, fenomena kenaikan harga pangan menjelang Ramadan dan Lebaran sejatinya bukan persoalan baru. Komoditas strategis seperti cabai, bawang, serta daging hampir setiap tahun menjadi penyumbang utama inflasi musiman. Namun, Rajiv menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak bisa terus-menerus dianggap sebagai siklus tahunan yang tak terhindarkan.

Masalah utama, menurutnya, bukan semata pada ketersediaan produksi, melainkan lemahnya sistem distribusi yang belum sepenuhnya adaptif terhadap risiko cuaca ekstrem dan bencana alam. Ketergantungan pada jalur distribusi tertentu tanpa alternatif yang memadai membuat pasokan mudah terganggu ketika terjadi bencana.

“Wilayah dan pola distribusi harus diperkuat. Setiap tahun kita menghadapi persoalan yang sama, tapi belum sepenuhnya diselesaikan,” tegas legislator NasDem tersebut.

Selain distribusi, Rajiv juga menyoroti kesiapan pemerintah dalam melindungi petani, terutama petani hortikultura yang dinilai paling rentan terdampak cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi.

Ia menyebut, banjir dan longsor kerap menghancurkan lahan pertanian dalam waktu singkat, menyebabkan gagal panen dan kerugian ekonomi yang signifikan bagi petani.

Menurut Rajiv, respons pemerintah selama ini masih cenderung bersifat reaktif dan jangka pendek. Bantuan pascabencana memang penting, tetapi belum cukup untuk menjamin keberlanjutan ekonomi petani yang setiap tahun menghadapi risiko serupa.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Rakyat news| | | |