Label Nyeleneh di Google Maps, Rumah Jokowi Jadi ‘Tembok Ratapan’, Heru Subagia Singgung Aura Mistis

9 hours ago 11
Lokasi rumah Jokowi yang dilabeli tembok ratapan soli

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Fenomena unik mencuat di Solo. Kediaman pribadi Presiden ke-7 RI, Jokowi, yang beralamat di Jalan Kutai Utara No 1, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, mendadak ramai diperbincangkan publik.

Tembok Ratapan Solo

Pasalnya, rumah tersebut sempat muncul di Google Maps dengan label tidak lazim, “Tembok Ratapan Solo”.

Penamaan itu memicu beragam respons dari masyarakat. Tak sedikit yang mengaitkannya dengan fenomena warga yang datang silih berganti ke rumah Jokowi, baik untuk sekadar bersilaturahmi maupun dengan tujuan-tujuan tertentu.

Pengamat Politik dan Ekonomi, Heru Subagia, menilai fenomena ini sebagai sesuatu yang unik dalam ruang publik Indonesia.

“Ini fenomena cukup unik yang membahas tembok ratapan di Solo alias kediaman Pak Jokowi,” ujar Heru kepada fajar.co.id, Rabu (18/2/2026).

Ia mengaku telah dua kali berkunjung ke Solo dan melihat langsung bagaimana banyak masyarakat datang ke rumah mantan orang nomor satu di Indonesia itu.

“Saya selama datang dua kali ke Solo, saya lihat banyak saudara kita datang ke Solo. Betul, itu banyak yang sifatnya individu, kelompok, dan juga komunitas,” sebutnya.

Masyarakat Datang dengan Tujuan Beragam

Menurut Heru, para pendatang tersebut memiliki latar belakang dan tujuan yang beragam. Ada yang mengatasnamakan kunjungan pribadi, komunitas, hingga organisasi.

“Saya lihat sendiri waktu berkunjung, banyak yang mengatasnamakan kunjungan pribadi, komunitas, atau organisasi," Heru menuturkan.

"Atau yang sifatnya ada misi secara khusus memberikan legitimasi atau penguatan bahwa memang ada hal yang kiranya masyarakat umum percaya di rumah Pak Jokowi mempunyai atmosfer yang berbau mistis,” jelasnya.

Heru melihat, fenomena ini menunjukkan bagaimana masyarakat datang dengan segala tujuan dan harapan masing-masing.

“Ada beberapa sudut pandang yang rasional, emosional, dan irasional,” ucapnya.

Berharap Dapat Keberkahan dari Jokowi

Ia mencontohkan, ada yang datang dengan niat khusus berkaitan dengan isu ijazah dan kebangsaan lainnya.

Namun, tidak sedikit pula yang hadir sekadar bersilaturahmi, berdoa, bahkan berharap mendapatkan karomah atau keberkahan.

“Dan tentu ada sebagian teman-teman yang datang hanya sekadar silaturahmi, berdoa, atau bahkan mengharapkan karomah atau keberkahan,” tukasnya.

Meski demikian, Heru menganggap bahwa hal tersebut merupakan hak setiap warga negara.

“Saya pikir itu hak mereka dan kita hanya memberikan komentar bahwa inilah khasanah di ruang publik yang saat ini fenomenal,” terangnya.

Pengaruh Daya Tarik Jokowi

Ia bahkan menyebut, daya tarik Jokowi telah melahirkan semacam “platform” tembok ratapan di Solo yang identik dengan rumah pribadinya.

“Jokowi mempunyai daya tarik hingga pada akhirnya terwujud sudah ada platform tembok ratapan di Solo dan itu rumah Pak Jokowi,” imbuhnya.

Bagi Heru, fenomena ini tidak perlu ditertawakan. Ia menilai, kondisi tersebut mencerminkan karakter masyarakat Indonesia yang masih bersentuhan dengan hal-hal berbau mistis.

“Bagi saya, tidak ada masalah, tidak harus diketawain bahwa memang masyarakat Indonesia saat ini masih menyentuh yang sifatnya mistis,” tegasnya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Rakyat news| | | |