Buka Muktamar, Prof Haedar Nashir Ungkap Jas Kuning Ditetapkan saat Dirinya Memimpin IPM

1 hour ago 5
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir, saat membuka muktamar IPM.

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR -- Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, mengingatkan pentingnya peran Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sebagai bagian dari kekuatan besar persyarikatan Muhammadiyah.

Hal itu disampaikan Haedar saat membuka Muktamar IPM ke-24 yang digelar di Balai Sidang Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Jumat (6/2/2025).

Tempat Bersejarah bagi Muhammadiyah

Haedar menyebut Unismuh Makassar sebagai tempat yang sarat sejarah bagi Muhammadiyah.

Ia mengungkapkan, lokasi tersebut menjadi saksi perjalanan penting persyarikatan dalam satu dekade terakhir.

“Tempat ini tempat yang punya sejarah dalam dinamika persyarikatan Muhammadiyah,” ujar Haedar dalam sambutannya.

Ia mengenang, pada 2015 lalu, Balai Sidang Unismuh menjadi lokasi Muktamar Muhammadiyah yang memberinya amanah sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah.

“Yang pertama, dalam kurun terakhir di 2015, menjadi tempat Muktamar Muhammadiyah. Kami memperoleh amanah di tempat ini,” sebutnya.

Momentum Muktamar IPM ke-24 ini pun dianggap tidak kalah penting.

Haedar bahkan mengaku baru dua kali mengenakan peci khas Sulawesi Selatan dalam momen bersejarah persyarikatan.

“Yang kedua adalah Muktamar IPM ke-24, maka saya baru dua kali pakai peci khas Sulsel ini di momentum yang sangat penting ini. Maka berbanggalah IPM dan berjayalah IPM,” katanya.

Punya Hubungan Emosional dengan IPM

Haedar juga menegaskan kedekatan emosionalnya dengan IPM. Selain sebagai Ketum PP Muhammadiyah, ia merupakan alumni IPM yang aktif sejak usia pelajar.

“Saya Ketum PP Muhammadiyah tetapi saya juga alumni IPM,” ungkapnya.

Ia menceritakan perjalanan organisasinya di IPM, mulai dari SMA Negeri 10 Bandung, IPM Cabang Cibeunying Kota Bandung pada 1975-1977, hingga aktif di Yogyakarta dan Pimpinan Pusat IPM pada 1983-1986.

“Banyak saudara belum lahir,” selorohnya, disambut tawa peserta.

Jas Kuning IPM Ditetapkan di Masa Haedar Nashir

Haedar juga mengungkapkan bahwa jas kuning yang kini menjadi identitas IPM merupakan hasil keputusan kolektif pada masa kepemimpinannya di PP IPM.

“Kalau kalian memakai jas kuning ini, itu pilihan saya pada tahun ketika saya di PP IPM,” jelasnya.

Ia menambahkan, desain pakaian Ipmawati dan seragam pelajar Muhammadiyah turut ditentukan oleh alumni IPM, termasuk Nurjanah Djuhandini (istrinya).

“Jadi kami dan saya ikut serta dalam proses perjalanan IPM,” ucapnya.

IPM Tidak Bisa Dipisahkan dari Rumah Besar Muhammadiyah

Lebih jauh, Haedar menegaskan bahwa IPM merupakan bagian tidak terpisahkan dari rumah besar Muhammadiyah bersama organisasi otonom lainnya.

“Tetapi kita berada di rumah besar Muhammadiyah, IPM, Pemuda, IMM, NA, HW, Tapak Suci, semua melebur menjadi satu kekuatan besar yang bernama persyarikatan Muhammadiyah,” imbuhnya.

Ia mengajak seluruh kader untuk menyalurkan kebanggaan berorganisasi demi kemajuan Muhammadiyah.

“Kita perlu bangga berada dan menjadi penggerak Muhammadiyah, termasuk seluruh Ortom,” tegas Haedar.

Kiprah Nyata Muhammadiyah

Dalam usia 113 tahun, Muhammadiyah disebut Haedar telah menunjukkan kiprah nyata, baik di dalam maupun luar negeri.

“Kita telah bergerak di seluruh sudut tanah air sampai ke pelosok 3T,” Haedar menuturkan.

Bukan hanya itu, Muhammadiyah juga memiliki jaringan pendidikan dan dakwah internasional, mulai dari sekolah di Australia, universitas di Malaysia, hingga markas dakwah di Kairo.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Rakyat news| | | |