Heru Subagia Sebut Isu Kudeta Kapolri Cuma Narasi, Nol Data

2 hours ago 10
Heru Subagia bersama Rismon dalam sebuah diskusi.

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Kagama Cirebon, Heru Subagia, menanggapi isu kudeta terhadap Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo hingga wacana pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang belakangan ramai di ruang publik.

Pernyataan itu disampaikan Heru usai menghadiri peluncuran buku 'Raport Merah Sang Jenderal Listyo Sigit Prabowo' karya Ahmad Bahar di Jakarta, Kamis (5/2/2026), yang dihadiri sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang.

Kudeta Kapolri Tidak Punya Dasar Kuat

Heru secara tegas menyatakan keberatannya terhadap narasi yang dibangun dalam buku tersebut.

Ia menilai, isu kudeta terhadap Kapolri di bawah pemerintahan Prabowo-Gibran tidak memiliki dasar yang kuat.

“Berkaitan Jenderal Listyo Sigit bisa dikudeta di bawah pemerintahan Prabowo-Gibran. Saya menegaskan sikap saya, saya sebenarnya pengen menyobek sampul buku mas Bahar,” ujar Heru kepada fajar.co.id, Jumat (5/2/2026).

Dikatakan Heru, isi buku tersebut lebih banyak berupa narasi yang disusun dari potongan informasi media, bukan hasil kajian mendalam berbasis data.

“Saya sudah komunikasikan, buku mas Bahar hanya sebagai narasi dan di situ yang menjadikan sajian atau bahasa hanya mengadopsi dari beberapa informasi yang didapatkan dari media, artikel atau sumber yang berserakan,” sebutnya.

Perlu Penjelasan Konkret Mengenai Kesalahan Kapolri

Ia mempertanyakan tudingan yang diarahkan kepada Kapolri. Heru menuturkan bahwa tidak ada penjelasan konkret mengenai kesalahan Jenderal Listyo Sigit yang dapat dijadikan dasar tuntutan politik.

“Saya menekankan, apa salah Kapolri? Sehingga kemarin sempat pak Amien Rais tiba-tiba menyerukan sebuah jihad setelah berdiskusi dan seolah-olah membaca tuntas dari buku yang disodorkan mas Bahar,” sesalnya.

Heru juga menyoroti desain sampul buku yang menampilkan wajah Presiden ke-7, Jokowi.

Ia menganggap bahwa visual tersebut seolah mengarahkan persepsi pembaca untuk mengaitkan Jokowi dengan Kapolri.

“Saya katakan ke mas Bahar, anda mengartikan wajahnya pak Jokowi itu dalam sampul buku ini artinya apa? Anda menunjuk Jenderal Listyo Sigit,” ujarnya.

Ia pun menantang penulis dan pihak-pihak yang melontarkan tudingan untuk menunjukkan bukti yang jelas.

“Coba tunjukkan data yang menunjukkan hubungan antara Jokowi dan Listyo Sigit,” tukasnya.

Menyeret Nama Prabowo dalam Pusaran Isu

Lebih lanjut, Heru mengatakan bahwa terdapat upaya framing yang mendorong Presiden Prabowo Subianto agar segera melengserkan Kapolri.

“Ada juga seolah membuat framing Prabowo harus segera melengserkan Listyo Sigit,” imbuhnya.

Heru mengaku kerap dianggap membela Jokowi dan Jenderal Listyo Sigit. Namun, ia menegaskan bahwa sikapnya semata-mata meminta kejelasan data dan konsistensi logika.

“Saya dianggap membela Jokowi dan Listyo Sigit, padahal saya menantang mereka,” terangnya.

Ia menekankan, jika tudingan diarahkan kepada Jokowi, Listyo Sigit, hingga Gibran, maka konteks politiknya tidak bisa dipisahkan dari pemerintahan saat ini.

“Apabila mereka menuduh Jokowi, Listyo Sigit, bahkan Gibran, pertanyaannya, Prabowo menjadi Presiden karena paket dengan Gibran,” ucap Heru.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Rakyat news| | | |