Anak Bunuh Diri Karena Tak Bisa Beli Buku, Gubernur NTT: Kuburannya Tidak Boleh Pakai Tanah

4 hours ago 8
Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena

FAJAR.CO.ID, KUPANG -- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, meluapkan kemarahannya menyusul tragedi meninggalnya murid sekolah dasar di Kabupaten Ngada yang diduga nekat mengakhiri hidup karena tak mampu membeli buku dan alat tulis.

Melki mengaku terpukul sekaligus malu atas peristiwa tersebut.

Ia mengatakan, tragedi itu sebagai potret kegagalan negara dan sistem sosial dalam melindungi warga paling rentan dari himpitan kemiskinan.

Kegeraman itu disampaikan Melki saat berpidato di Universitas Citra Bangsa, Kupang, Rabu (5/2/2026) kemarin.

Tamparan dan Minimnya Kepekaan Pemerintah Daerah

Di hadapan pejabat daerah dan kalangan akademisi, ia menyebut kematian anak tersebut sebagai tamparan keras bagi semua pihak.

“Malu saya sebagai gubernur model begini. Masa ada warga negara mati hanya karena tidak bisa beli buku tulis,” ujar Melki dikutip fajar.co.id, Kamis (5/2/2026).

Siswa SD di NTT memilih mengakhiri hidup diduga karena tak bisa membeli buku dan pena.

Tidak hanya itu, Melki juga menyinggung minimnya kepekaan pemerintah daerah setempat.

Ia mengaku hingga malam sebelumnya masih memantau langsung kondisi di lapangan, termasuk memastikan proses pemakaman korban berlangsung secara layak.

“Harus ke sana. Kuburannya tidak boleh pakai tanah. Kuburkan dia dengan layak. Dia pun mati sebagai manusia,” tegasnya.

Ia kembali menekankan soal nilai kemanusiaan dalam menangani tragedi tersebut.

“Kita harus seperti Mother Teresa. Dia pun mati sebagai manusia. Tidak boleh ada perlakuan seperti ini, malu saya sebagai gubernur,” Melki menuturkan.

Melki mengungkapkan, kasus memilukan itu baru diketahuinya setelah pelaksanaan Rapat Koordinasi Nasional pada Senin (2/2/2036).

Menurutnya, bila peristiwa ini mencuat sebelum Rakornas, bukan tidak mungkin akan langsung menjadi perhatian serius Presiden Prabowo Subianto.

Alarm Keras Perangkat Sosial

Lebih jauh, Melki menilai tragedi ini sebagai alarm keras atas tidak berfungsinya perangkat sosial dan berbagai program bantuan yang selama ini digelontorkan pemerintah.

“Guna apa kita punya PKH dan perangkat sosial lain? Uang triliunan mengalir ke NTT untuk orang miskin, tapi masih ada yang mati karena tidak bisa beli buku,” katanya.

Ia menegaskan tidak ingin peristiwa serupa kembali terulang di wilayah yang dipimpinnya.

Melki meminta seluruh jajaran pemerintah daerah, mulai dari kepala daerah, sekda, hingga perangkat sosial, untuk bertanggung jawab dan bergerak cepat menangani kemiskinan ekstrem.

“Ini cukup. Ini yang terakhir. Jangan ada lagi warga kita mati hanya karena miskin. Kalau besok ada lagi, saya tuntut orang-orangnya,” tegasnya.

Gubernur NTT itu juga menyatakan siap memikul tanggung jawab jika ditemukan kelalaian dalam penanganan kasus tersebut.

Ia mengajak semua pihak, termasuk pemerintah daerah, DPR, tokoh agama, dan dunia pendidikan, untuk melakukan refleksi bersama dan memperkuat kepedulian sosial.

“Kita semua yang hadir di sini harus malu. Ini pahit, tapi harus kita telan bersama. Jangan lagi ada kejadian seperti ini,” kuncinya.

Isi Surat YBS

Viral di media sosial seorang murid SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya, inisial MGT (usia 47 tahun).

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Rakyat news| | | |