Pasien BPJS Kesehatan cuci darah (AI)
FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Aktivis sosial Doddy Rizki Nugraha menyoroti kondisi pasien BPJS PBI yang banyak dinonaktifkan, termasuk mereka yang rutin cuci darah dan menjalani kemoterapi.
Ia juga menyinggung kasus tragis anak SD di NTT yang bunuh diri karena kehilangan hak pendidikan dan tidak pernah menerima bantuan pemerintah.
Komentar Doddy Rizki Nugraha
Dalam unggahannya, Doddy menulis:
“Pasien BPJS PBI banyak yang dinonaktifkan, ada yang rutin cuci darah dan menjalani kemoterapi. Sekarang tinggal menunggu nasib saja… Kemarin ada anak SD bunuh diri di NTT, karena kehilangan hak pendidikannya… ternyata tidak pernah dapat bantuan pemerintah juga selama ini.”
Ia juga menyoroti isu bantuan internasional:
“Sementara ikutan duit arisan badan perdamaian dunia, eh Gaza malah diserang… Mana ane ikutan nyumbang lagi…”
Komentar ini menekankan ketidakadilan sosial dan kesenjangan akses bantuan, baik di bidang kesehatan maupun pendidikan.
Kondisi Pasien BPJS PBI
- Banyak pasien BPJS PBI yang sangat membutuhkan layanan kesehatan dinonaktifkan karena administrasi atau kendala data.
- Beberapa pasien rutin cuci darah dan kemoterapi terancam kehilangan hak pelayanan medis, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi keluarga dan pasien.
- Isu ini menimbulkan pertanyaan tentang perlindungan sosial dan kebijakan kesehatan pemerintah.
Kasus Anak SD di NTT
Anak SD di NTT yang bunuh diri tidak menerima bantuan pendidikan atau sosial yang seharusnya menjadi haknya.
Kasus ini menimbulkan sorotan publik terkait kualitas jaminan pendidikan dan perlindungan anak.
Menjadi bukti nyata bahwa masih ada gap dalam distribusi bantuan sosial di daerah terpencil.
Kritik Terhadap Bantuan Internasional
Doddy juga menyinggung isu global: meski ada program bantuan internasional, konflik seperti di Gaza tetap terjadi, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas bantuan tersebut.
Komentar Doddy Rizki Nugraha menyoroti masalah serius dalam jaminan kesehatan, pendidikan, dan bantuan sosial, baik di tingkat nasional maupun internasional. Kasus pasien BPJS PBI dan anak SD di NTT menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat sistem perlindungan sosial dan memastikan hak dasar masyarakat terpenuhi.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
















































